Rabu, 01 Februari 2012

perekonomian terbuka


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.      Kajian Teoritis
2.1.1. Perekonomian Terbuka
            Sebagian besar perekonomian dunia adalah perekonomian terbuka yaitu mengekspor barang dan jasa ke luar negeri, mengimpor barang dan jasa dari luar negeri, serta meminjam dan memberikan pinjaman pada pasar modal dunia (Mankiw,2005: 295). Menurut (Samuelson,2003) Perekonomian terbuka adalah perekonomian yang melibatkan diri dalam perdagangan Internasional (ekspor dan Impor ) barang dan jasa serta modal dengan negara-negara lain dengan ukuran keterbukaan di lihat dari rasio ekspor atau impor terhadap GDP
Gambar 2.1
Ekuilibrium Pendapatan Nasional Dalam Perekonomian Terbuka
EKUILIBRIUM ANTARA TABUNGAN DAN INVESTASI (DALAM DAN LUAR NEGERI)


 
Keterangan :

s = DS/ DY = MPS = 0,20 
m = DM/ DY = MPI = 0,30

Keterangan :
  1. Keseimbangan antara pendapatan nasional dan pengeluaran agregate pada titik A yaitu 100
  2. Pada tingkat pendapatan di bawah A maka permintaan agregate melebihi tingkat produksi à perusahaan meningkatkan kapasitas produksi, demikian pula sebaliknya
  3. Gambar bawah à menunjukkan titik ekuilibrium antara tabungan dan saving à negara memiliki defisit transaksi berjalan  (impor lebih besar dari ekspornya)
2.1.1.1 Hubungan Ekonomi Antar Negara (Economic Relationship Others Countries)
Perdagangan Internasional dapat meningkatkan standar hidup dengan berspesialisasi pada produk yang mempunyai keunggulan komparatif, mengekpor barang dan jasa secara relatif effisien dan mengimpor barang dan jasa secara relatif tidak effisien. Keuangan Internasional dalam sistem keuangan internasional berperan sebagai perantara (lubricant) yang memfasilitasi pertukaran melalui pembelian dan penjualan.seperti komoditi untuk mendapatkan mata uang asing dan suatu mata uang dengan mata uang lainnya.
2.1.1.2  Neraca Pembayaran Internasional BoP ( Balance Of Payment )
BoP (balance of payment) atau neraca pembayaran adalah pencatatan yang sistematis dari seluruh transaksi ekonomi antara suatu negara dengan negara lain. Aturan umum dari BoP atau neraca pembayaran pertama transaksi yang menghasilkan valuta asing yang di catat dalam pos credit (+) dan transaksi yang menimbulkan pengeluaran valuta asing dicatat dalam pos debit (-). Element utama dari BoP adalah dari Current Account, yang isinya Impor dan ekspor barang atau  BoT yang komposisinya komoditi primer dan manufaktur, surplus BoT ( X > M ) yang disebut favorable BoT  dan deficit Bot ( X< M ) yang disebut unfavorable BoT. Jasa (shipping dan financial service), pendapatan dari investasi asset di luar negeri ( investement income ) dan transfer.financial account seperti lending (-) atau Borrowing (+) dari pemerintah atau pun swasta, official reserve dana yang digunakan oleh pemerintah dan bank sentral untuk memanage nilai tukar (exchange rate) yang menggambarkan intervensi pemerintah di pasar valuta asing, statistical discrepancy yang menggambarkan aliran barang , jasa dan finansial yang tidak tercatat.
2.1.1.3  Nilai Tukar ( Exchange Rates )
Dalam perekonomian terbuka juga tidak lepas dari nilai tukar.karena nilai tukar sangat menentukan suatu besaran kurs dari setiap negara. Definisi singkat dari harga suatu mata uang dalam bentuk mata uang lainya, jumlah mata uang asing yang dapat dibeli dengan 1 unit mata uang domestik. ER (exchange rate) ditentukan dalam pasar valuta asing (foreign exchange market), dan mata uang asing lainya dapat diperdagangkan pada tingkat retail di bank-bank dan perusahaan yang bergerak di bidang tersebut.
Gambar 2.2
 Keseimbangan Nilai Tukar Rupiah Terhadap US Dollar


 








Keterangan : Demand curve slope downward menunjukkan nilai dollar turun (dan nilai Rp semakin mahal) keseimbangan demand & supply valuta asing menentukan nilai tukar suatu mata uang.
Nilai Tukar mempunyai beberapa sistem yaitu Fixed exchange rate, Flexible exchange rate/Floating exchange rate, managed exchange rate. Terminologi perubahan nilai tukar terdiri dari depresiasi, apresiasi, devaluasi, dan revaluasi.
2.1.1.4 Perdagangan Luar Negeri (Foreign Trading)
            Ekspor adalah barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri dan dibeli oleh penduduk Negara lain. Impor adalah barang dan jasa yang diproduksi diluar negeri dan dikonsumsi di dalam negeri. Ekspor netto ( NX) = ekspor (X) – impor (M). jika positif menjadi net foreign investement tetapi jika negative menjadi net foreign borrowing. Faktor- faktor yang mempengaruhi ekspor atau impor yaitu output GDP – domestic atauluar negeri, nilai tukar (exchange rate) – depresiasi atau apresiasi. GDP dengan memasukan perdagangan luar negeri akan menghasilkan persamaan sebagai berikut :
GDP  =  C + I + G + NX
Dimana, C + I + G disebut permintaan domestic (domestic demand),             sehingga NX = GDP – permintaan domestic.
2.1.1.5 Tabungan dan Investasi dalam Perekonomian Terbuka (Saving and Investation )
Model sederhana :
I = S
I + G = S + T
I = S + (T – G)

Pada perekonomian Terbuka
I + NX = S + ( T – G )
Penulisan kembali sebagai persamaan idetitas
NX = S + (T – G) – I
2.1.1.6 GNP Aktual dan Potensial (GNP Actual And Potential)
            Tujuan utama dari kegiatan ekonomi adalah menyediakan barang dan jasa yang masyarakat inginkan. Meskipun fluktuasi ekonomi dalam jangka pendek terjadi pada naik turunya siklus bisnis, namun dalam jangka panjang perekonomian tumbuh pesat dalam jangka panjang baik peningkatan GDP riil maupun standar hidup. Proses ini di namakan pertumbuhan ekonomi. GDP potensial menunjukan tingkat output maksimum yang berkesinambungan (maximum sustainable level of output) yang mampu diproduksi oleh perekonomian suatu Negara. Output potensial ditentukan oleh kapasitas produksi dalam suatu perekonomian, yang bergantung pada input yang tersedia (capital, labour, land, et ) dan effisiensi teknologi dalam suatu perekonomian. GDP actual menggambarkan tingkat output yang bisa dihasilkan dalam suatu perekonomian dengan kendala adanya perubahan siklus bisnis yang mungkin berubah bisnis dalam jangka pendek baik internal maupun eksternal. GDP potensial cenderung tumbuh secara mantap (steady growth), karena input seperti labor, capital dan tingkat teknologi berubah sangatlambat sepanjang waktu, sementara GDP aktual tidak, mengikuti pola siklus bisnisnya. Saat perekonomian beroperasi pada kondisi potensialnya, penggunaan faktor produksi yang ada (angkatan kerja dan  cadangan modal) telah berada pada keadaan penuh (full employment).
2.1.2 Teori Mundell-Fleming
            Untuk menganalisa efek penerapan sistem nilai tukar mengambang bebas dalam pelaksanaan kebijakan ekonomi suatu negara yang berperekonomian kecil dan terbuka, dapat digunakan suatu model ekonomi yang dirancang oleh ekonom Mundell dan Fleming. Model Mundell-Fleming adalah versi perekonomian terbuka dari model IS-LM. Kedua model tersebut, menekankan interaksi antara pasar barang dan pasar uang, serta mengasumsikan bahwa tingkat harga adalah tetapdan menunjukkan apa yang menyebabkan fluktuasi jangka pendek dalam perekonomian agregat (atau, sama dengan pergeseran kurva permintaan agregat) Perbedaan penting antara model IS-LM dengan model Mundell-Fleming (IS*-
LM*) adalah bahwa model IS-LM mengasumsikan perekonomian tertutup.
            Asumsi penting yang yang dipakai dalam model Mundell-Fleming adalah model tersebut didesain untuk negara yang berperekonomian kecil dan terbuka (small open economy) Hal ini mengandung konsekuensi bahwa pada perekonomian kecil tingkat suku bunga domestik (rd) akan sama dengan tingkat suku bunga internasional (r*), bahkan tingkat suku bunga di negara berperekonomian kecil dan  terbuka tersebut ditentukan oleh tingkat suku bunga internasional. Penyebabnya, karena perekonomian negara tersebut hanya merupakan bagian kecil dari pasar internasional sehingga tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penetapan suku bunga internasional, dan karena penduduk negara tersebut mempunyai akses penuh ke pasar uang internasional. Dengan demikian negara yang berperekonomian kecil dan terbuka menjadikan  tinkgat suku bunga internasional sebagai eksogen dalam model ini. Akhirnya, satu hal hal yang perlu dicatat dalam model ini adalah perilaku perekonomian akan tergantung pada  sistem nilai tukar yang diadopsi oleh negara yang bersangkutan. Lebih lanjut , menurut Mundell-Fleming, perekonomian teruka kecil dengan mobilitas modal sempurna dapat dijelaskan dua model persamaan sebagai berikut
Y = C (Y-T) + I (r*) +G +NX .............(1)
M/P = L (r*, Y) ...................................(2)
Persamaan (1) menjelaskan keseimbangan di pasar barang (sektor riil), sehingga akan membentuk kurva IS*. Sedangkan, persamaan (2) menjelaskan keseimbangan di pasar uang (sekotr moneter), dan akan menghasilkan kurva LM* Variabel eksogen dalam model ini adalah variabel        kebijakan fiskal (G dan T) , variabel kebijakan moneter (M), tingkat harga (P) , dan tingkat bunga dunia (r*). Sedangkan variabel endogen adalah pendapatan nasional (Y) dan nilai tukar nominal (e)
Gambar 2.3
Kondisi Keseimbangan pada Mundell-Fleming
LM*
 
           
 







Sumber (Mankiw,2005:295)
Hubungan kedua model dalam persamaan (1) dan (2) dapat dejelaskan dalam gambar 2.3 dimana keseimbangan untuk perekonomian terjadi Eq*, atau titik potong kurva IS* dan LM*. Titik potong ini menunjukkan nilai tukar nominal dan tingkat pendapatan nasional pada saat sektor riil dan sektor moneter suatu negara sedang berada pada posisi keseimbangan.
Model ini, sering digambarkan sebagai “paradigma kebijakan dominan untuk mempelajari kebijakan moneter dan fiskal perekonomian-terbuka,” membuat satu asumsi penting dan ekstrim : perekonomian yang sedang dipelajari adalah perekonomian terbuka kecil dan ada  mobilitas modal sempurna, berarti bahwa ia dapat meminjam atau meminjamkan sebanyak yang ia inginkan dalam pasar keuangan dunia, dan karenanya, tingkat bunga perekonomian dikontrol oleh tingkat bunga dunia, dinotasikan secara matematis sebagai r = r*. Satu pelajaran penting model ini yaitu kinerja perekonomian bergantung pada sistem kurs yang diadopsinya—mengambang atau tetap. Model ini akan membantu menjawab pertanyaan sistem kurs mana yang sebaiknya diadopsi suatu negara.
Small open economic di bawah kurs mengambang dapat dirumuskan sebagai berikut :
IS*: Y = C(Y-T) + I(r*) + G + NX(e)
 LM*: M/P = L (r*,Y)
Asumsi 1:
Tingkat bunga domestik sama dengan tingkat bunga dunia (r = r*).

Asumsi 2:
Tingkat harga ditentukan secara eksogen karena model digunakan untuk menganalisis jangka pendek (P). Ini berarti kurs nominal proporsional terhadap kurs riil.
Asumsi 3:
Jumlah uang beredar ditentukan secara eksogen oleh Bank Sentral (M).
Assumsi 4:
Kurva LM*  akan vertikal karena kurs tidak masuk ke dalam persamaan LM*.
Kondisi terwebut dapat digambarkan sebagai  berikut :
Gambar 2.4
Kurva Mundell-Fleming IS*
Kurva IS* miring ke bawah karena kurs yang lebih tinggi mengurangi ekspor neto (karena meningkatnya nilai mata uang membuat barang-barang domestik lebih mahal bagi orang asing), yang lalu, menurunkan pendapatan agregat
Gambar 2.5
 Menderivasi Kurva Mundell-Fleming LM*
Gambar 2.5 Menderivasi Kurva Mundell-Fleming LM*
















Gambar 2.6
Model Mundell-Fleming Dibawah Kurs Mengambang

Gambar 2.7
Model Mundell-Fleming Dibawah Kurs Tetap

Model Mundell-Fleming menunjukkan kebijakan fiskal tidak mempengaruhi pendapatan agregat di bawah kurs mengambang. Ekspansi  fiskal menyebabkan mata uang apresiasi, mengurangi ekspor neto dan  mengatasi dampak ekspansif yang biasa pada permintaan agregat.    Model Mundell-Fleming menunjukkan kebijakan moneter mempengaruhi  pendapatan agregat di bawah kurs tetap. Tiap usaha ekspansi jumlah uang  beredar sia-sia, karean jumlah uang beredar harus menyesuaikan untuk  memastikan kurs bertahan pada tingkat yang diumumkannya.
2.1.3    Teori Nilai Tukar
Nilai tukar adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya atau nilai dari suatu mata uang terhadap nilai mata uang lainnya (Salvatore 1997:9). Kenaikan nilai tukar mata uang dalam negeri disebut apresiasi atas mata uang asing. Penurunan nilai tukar mata uang dalam negeri disebut depresiasi atas mata uang asing. Ada dua mekanisme nilai, yaitu mekanisme pasar dan penetapan pemerintah. Jika nilai tukar mata uang suatu negara ditetapkan berdasarkan mekanisme pasar, maka negara tersebut dikatakan menganut system nilai tukar (kurs) mengambang (floating exchange rate). Sebaliknya, nilai tukarnya ditetapkan pemerintah, maka negara tersebut menganut nilai tukar (kurs) tetap (fixed exchange rate). Tetapi ada juga negara yang membiarkan nilai tukar mata uangnya berdasarkan mekanisme pasar, yang jika pergerakan nilai tukarnya melampai batas, pemerintah melakukan intervensi. Negara yang menempuh cara demikian dikatakan menganut system nilai tukar mengambang terkendali (managed floating exchange rate).                                                                                                                      
2.1.3.1. Sistem-Sistem Nilai Tukar
 Sistem nilai tukar yang ditentukan oleh pemerintah, ada beberapa jenis, antara lain:
a.       Sistem Nilai Tukar Tetap ( Fixed exchange rate system )
Sistem nilai yang ditahan secara tahap oleh pemerintah atau berfluktuasi di dalam batas yang sangat sempit. Jika nilai tukar berubah terlalu besar, maka pemerintah akan mengintervensi untuk memliharanya dalam batas-batas yang dikehendaki. Dalam sistem kurs tetap, kurs ditetapkan berdasarkan keputusan pemerintah kelebihan dari sistem ini adalah adanya kepastian nilai tukar yang dapat meningkatkan ekspektasi. Tetapi kelemahannya adalah kurs yang berlaku tidak selalu menggambarkan tingkat kelangkaan yang sebenarnya. Bisa terjadi nilai tukar yang ditetapkan pemerintah terlalu tinggi dibanding dengan kurs pasar (overvalued). Atau sebaliknya nilai tukar yang ditetapkan pemerintah terlalu rendah dibandingkan dengan kurs pasar (undervalued). Bila selisih kurs yang ditetapkan dianggap terlalu jauh, maka pemerintah melakukan koreks. Koreksi atas nilai tukar yang dinilai terlalu tinggi disebut devaluasi. Sedangkan koreksi untuk nilai tukar yang terlalu rendah disebut revaluasi. Jadi revaluasi dan devaluasi pada prinsipnya juga merupakan koreksi atas nilai tukar, seperti halnya dengan apresiasi dan depresiasi. Perbedaannya revaluasi dan devaluasi berdasarkan keputusan pemerintah.sedangkan apresiasi dan depresiasi berdasarkan mekanisme pasar.
b.      Sistem Nilai Tukar Mengambang ( Managed floating exchange rate )
Sistem nilai tukar ini yang terletak diantara fixed dan freely floating, tetapi mempunyai kesamaan dengan fixed exchanger rate system, yaitu pemerintah bias melakukan intervensi untuk menjaga supaya nilai mata uang tidak berubah terlalu banyak dan tetap dalam arah tertentu . sedangkan bedanya dengan free floating, managed floating masih lebih fleksibel terhadap suatu mata uang. Lalu menurut Krugman dan Obstfeld (2000:485), managed floating exchange rate system adalah sebuah sistem dimana pemerintah mengatur perubahan nilai tukar tanpa bermaksud untuk membuat nilai tukar dalam kondisi tetap. Dan telah dikatakan dalam sistem nilai tukar mengambang,  harga mata uang ditentukan berdasarkan mekanisme pasar (interaksi permintaan penawaran). Pergerakan nilai tukar semata-mata ditentukan oleh pergerakan sisi permintaan dan penawaran. Bila pertumbuhan permintaan lebih cepat dari pertumbuhan penawarannya maka mata uang tersebut akan semakin mahal (mengalami apresiasi). Bila nilai lebih lambat dari pertumbuhan dari pertumbuhan penawaran.
c.       Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas (Freely Floating Exchange Rate system.)
Sistem nilai tukar yang ditentukan oleh tekanan pasar, tanpa intervensi dari pemerintah.
d.      Sistem Nilai Tukar Patok ( Pegged exchange rate system )
Sistem nilai tukar dimana nilai tukar uang domestic dipatok secara tetap terhadap mata uang asing.
Memilih diantara berbagai sistem nilai tukar harus di lihat juga 3 aspek-aspek tertentu seperti :
1. Dalam jangka pendek, dengan sistem nilai tukar tetap sebuah Negara     tidak menggunakan kekuatanya dalam mengontrol tingkat bunga dan nilai tukar.
2.Disamping itu, tindakan antisipasi terhadap terjadinya devaluasi mata uang akan mendorong investor untuk meminta tingkat bunga yang sangat tinggi.
3. Pendapatan yang menentang nilai tukar fleksibel adalah bahwa nilai tukar mungkin dapat berubah banyak dan mungkin sulit untuk di control.
2.1.3.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Tukar
Ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi tinggi rendahnya nilai tukar mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing. Faktor-faktor tersebut adalah :
a.          Laju Inflasi Relatif
Dalam pasar valuta asing, perdagangan internasional baik dalam bentuk barang atau jasa menjadi dasar yang utama dalam pasar valuta asing, sehingga perubahan harga dalam negeri yang relative terhadap harga luar negeri dipandang sebagai factor yang mempengaruhi pergerakan kurs valuta asing. Misalnya, jika amerika sebagai mitra dagang Indonesia mengalami tingkat inflasi yang cukup tinggi maka harga barang Amerika.Juga menjadi lebih tinggi, sehingga otomatis terhadap barang dagangan relative mengalami penurunan.
b.         Tingkat Pendapatan Relatif
Faktor lain yang mempengaruhi permintaan dan penawaran dalam pasar mata uang asing adalah laju pertumbuhan riil terhadap harga-harga luar negeri. Laju pertumbuhan riil dalam negeri diperkirakan akan melemahkan kurs mata uang asing. Sedangkan pendapatan riil dalam negeri akan meningkatkan permintaan valuta asing relative dibandingkan.
c.          Suku Bunga Relatif
Kenaikan suku bunga mengakibatkan aktifitas dalam negeri menjadi lebih menarik bagi para penanam modal dalam negeri maupun luar negeri. Terjadi penanaman modal cenderung mengakibatkan naiknya nilai mata uang yang semuanya tergantung pada besarnya perbedaan tingkat suku bunga di dalam dan luar negeri, maka perlu dilihat mana yang lebih murah, di dalam atau luar negeri. Dengan demikian sumber dari perbedaan itu akan menyebabkan terjadinya kenaikan kurs mata uang asing terhadap mata uang dalam negeri.
d.         Kontrol Pemerintah
Menurut Madura ( 2003 : 114 ), bahwa kebijakan pemerintah bias mempengaruhi keseimbangan nilai tukar dalam berbagai hal termasuk :
·         Usaha untuk menghindari hambatam nilai tukar valuta asing
·         Usaha untuk menghindari hambatan perdagangan luar negeri
·         Melakukan intervensi di pasar uang yaitu dengan menjual dan membeli mata uang.
Alasan pemerintah untuk melakukan intervensi di pasar uang adalah :
·         Untuk mempelancar perubahan dari nilai tukar uang domestic yang bersangkutan.
·         Untuk membuat kondisi nilai tukar domestic di dalam batas-batas yang ditentukan .
·         Tanggapan atas gangguan yang bersifat sementara
·         Berpengaruh terhadap variable makro seperti inflasi, tingkat suku bunga dan pendapatan.
e.          Ekspektasi
Faktor kelima yang mempengaruhi nilai tukar valuta asing adalah ekspektasi atau nilai tukar masa depan. Sama seperti pasar keuangan yang lain, pasar valas beraksi cepat terhadap setiap berita yang memiliki dampak ke depan.            
2.1.3.3 Stabilitas Nilai Tukar
Nilai tukar yang stabil merupakan syarat pokok untuk tercapainya stabilitas ekonomi makro. Karena dalam dunia nyata, selalu ada interaksi antara sektor riil dengan sektor moneter, sehingga ketidakstabilan nilai tukar mencerminkan ketidakstabilan sektor riil dan atau sektor moneter. Pengalaman memang menunjukan bahwa ketidakstabilan nilai tukar sering merupakan gejala awal adanya ketidakstbilan sektor moneter. Tetapi  tidak ada masalah ekonomi yang mendadak mucul. Karena itu biasanya gejala ketidakstabilan di sektor dapat bersumber pada ketidakeffisienan disektor riil.
2.1.3.4 Teori Kebijakan Moneter Sistem Nilai Tukar
Dalam sistem nilai tukar tetap kebijakan moneter kurang efektif karena neraca transaksi berjalan tidak dapat berfungsi sebagai mekanisme penyesuaian karena ekspor dianggap sebagai variabel eksogen sehingga tidak dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar, sedangkan impor sebagai fungsi dari pendapatan. Peranan neraca transaksi berjalan digantikan oleh cadangan devisa yang berfungsi sebagai mekanisme penyesuaian untuk mencapai ekuilibrium overall BOP. Sampai seberapa jauh cadangan devisa dapat melaksanakan fungsinya tergantung pada besar kecilnya cadangan devisa. Menurunnya cadangan devisa inilah yang menyebabkan adanya counter productive bagi kebijakan moneter sehingga turunnya suku bunga akibat ekspansi kebijakan moneter pada akhirnya tidak dapat meningkatkan pendapatan riil masyarakat.Selain itu, elastisitas suku bunga dalam negeri yang cukup tinggi terhadap aliran modal internasional yang seharusnya dapat mempengaruhi efektivitas kebijakan moneter, juga tidak dapat efektif karena berkurangnya cadangan devisa.
Dalam sistem nilai tukar tetap, kebijakan moneter tidak efektif baik dalam situasi perfect capital mobility maupun dalam perfect capital immobility. Sebagai ilustrasi, dalam system nilai tukar tetap, dampak dari ekspansi moneter dapat dilihat dari dua situasi sebagai berikut :
a. Situasi Perfect Capital Immobility
Dalam situasi demikian, kebijakan moneter tidak efektif karena tidak dapat meningkatkan pendapatan riil masyarakat. Kebijakan moneter yang ekspansif akan menurunkan suku bunga, mendorong investasi dan menaikkan pendapatan riil masyarakat.Namun karena suku bunga tidak elastis sempurna terhadap aliran modal, maka penurunan suku bunga tersebut tidak mengakibatkan aliran modal keluar. Namun meningkatnya pendapatan tersebut dapat mendorong masyarakat untuk membeli barang-barang import sehingga overall BOP mengalami defisit. Sampai seberapa jauh kenaikan pendapatan tersebut akan menyebabkan overall BOP defisit tergantung pada marginal propensity to import (MPI). Semakin besar rasio MPI, semakin besar pula defisit BOP yang akan terjadi. Oleh karena sistem nilai tukar harus dipertahankan, maka defisit overall BOP tersebut harus dibiayai dengan cadangan devisa. Akibatnya, cadangan devisa menurun dan jumlah uang beredar juga menurun yang pada gilirannya mengakibatkan kontraksi pada kegiatan ekonomi. Menurunnya jumlah uang beredar akan mengembalikan suku bunga pada posisi semula sehingga kebijakan moneter tidak efektif. Dalam situasi demikian, kebijakan moneter kemungkinan masih efektif apabila elastisitas suku bunga terhadap investasi lebih besardari pada rasio marginal prospensity to impor (MPI).
b. Situasi Perfect Capital Mobility
Dalam situasi demikian, kebijakan moneter yang ekspansif akan menurunkan suku bunga dan mendorong investasi sehingga pendapatan riil masyarakat meningkat. Meningkatnya pendapatan akan mendorong impor sehingga menghasilkan deficit overall BOP. Selain itu, dengan asumsi perfect capital mobility, menurunnya suku bunga akan mendorong aliran modal ke luar sehingga menambah defisit overall BOP. Keseimbangan di titik E0 bukanlah merupakan keseimbangan jangka panjang karena pada titik ini overall BOP mengalami defisit. Keseimbangan jangka panjang memerlukan zero balance of overall BOP. Oleh karena nilai tukar harus dipertahankan konstan, maka defisit overall BOP tersebut harus dibiayai dengan cadangan devisa sehingga jumlah uang beredar menurun. Menurunnya jumlah uang beredar akan mendorong suku bunga kembali bergerak pada posisi semula yang lebih tinggi dan mengakibatkan kontraksi kegiatan ekonomi. Ekuilibirum jangka panjang akan terjadi pada titik E1 yang mencerminkan bahwa kebijakan moneter tidak efektif dalam meningkatkan pendapatan riil masyarakat. Keseimbangan internal dan eksternal kembali pada posisi semula sebelum terjadinya ekspansi kebijakan moneter. Dalam situasi demikian, kebijakan moneter kemungkinan masih efektif apabila elastisitas suku
bunga terhadap investasi lebih besar dari pada elastisitas suku bunga terhadap aliran modal internasional. Situasi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.8
Kebijakan Moneter Situasi
Perfect Capital Immobility















r
 


r
 


ro
 




Y
 



Y
 

Y11
 

 















Gambar 2.9
Kebijakan Moneter Situasi
Perfect Capital Mobility Situasi Perfect Capital Immobility









r
 


r
 


ro
 

 









Kebijakan fiskal dalam sistem nilai tukar tetap dan dalam perfect capital mobility justru efektif karena eskpansifnya pengeluaran Pemerintah akan meningkatkan suku bunga dan investasi sehingga pendapatan riil masyarakat bertambah. Naiknya suku bunga kan mendorong aliran modal masuk dan overall BOP menjadi surplus sehingga cadangan devisa meningkat dan jumlah uang beredar bertambah. Kebijakan fiskal semakin kurang efektif jika elastisitas aliran modal internasional semakin kecil terhadap suku bunga dalam negeri.Dalam keadaan perfect capital immobility, kebijakan fiskal tidak efektif sama sekali karena suku bunga tidak memiliki hubungan dengan aliran modal internasional. Dalam jangka panjang, ekspansi operasi Pemerintah tidak dapat peningkatkan pendapatan riil masyarakat karena overall BOP yang defisit harus diimbangi dengan kontraksi moneter akibat menurunnya cadangan devisa.
2.1.3.5 Nilai Tukar Nominal dan Nilai Tukar Riil
Para ekonom membedakan nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing menjadi dua, yaitu nilai tukar nominal dan nilai tukar riil. Nilai tukar nominal adalah harga relative mata uang dua Negara. Sedangkan, nilai tukar riil adalah harga relative barang-barang di kedua Negara, atau kadang kala disebut term of trade. Hubungan antara kedua nilai tukar ini dirumuskan sebagai berikut (Mankiw 2005) :
Nilai Tukar Riil = Nilai Tukar Nominal x Rasio Tingkat Harga
e = e x Pd / Pf                                                                                           (1)
Dimana,
Rasio Tingkat Harga = Tingkat Harga Barang Domestik                   (2)
Tingkat Harga Barang Luar Negeri
Dengan demikian, semakin tinggi nilai tukar riil,berarti harga barang-barang luar negeri relative lebih murah dibandingkan harga barang-barang domestik. Hal ini akan mengakibatkan meningkatnya transaksi impor di Negara tersebut, sehingga berpengaruh terhadap nilai ekspor bersih (NX).Faktor-faktor yang menentukan nilai tukar riil (Mankiw,2005) :
1. Ekspor bersih ( net export / NX  ) , tercermin dalam neraca perdagangan            (current account) Negara yang bersangkutan.
Ekspor bersih = output nasional – pengeluaran domestik                  
NX = Y – ( C + I + G )                                                           (3)
Persamaan tersebut menunjukan, bahwa dalam perekonomian terbuka        (open economy), pengeluaran domestic tidak harus sama dengan produksi domestic. Karena apabila terjadi selisih,  maka selisihnya dapat diekspor (NX positif) atau diimpor (NX negative).
Hubungan antara nilai ekspor bersih dengan nilai tukar riil dapat dirumuskan sebagai :
NX = f (e)                                                                               (4)
2. Ekspor bersih harus sama dengan investasi asing bersih.
Investasi asing besih (net foreign investement) adalah jumlah tabungan nasional (S, dimana S = Y – C – G ) dikurangi jumlah investasi (I) di suatu Negara. Atau, investasi asing bersih sama dengan total pinjaman yang diberikan masyarakat ke luar negeri dikurangi dengan total pinjaman yang diterima masyarakat dari luar negeri. Jadi, investasi asing bersih mencerminkan arus dana internasional untuk mendanai akumulasi modal di dalam negeri.
Ekspor bersih = Investasi asing bersih
S – I  =  N X                                                                           (5)
Persamaan di atas menunjukan, bahwa arus dana internasional untuk mendanai akumulasi modal serta arus barang dan jasa internasional adalah dua sisi mata uang yang sama, jika tabungan melebihi investasi, maka tabungan yang tidak membutuhkan, hai ini akan menyebabkan surplus perdagangan bagi Negara yang bersangkutan. Tetapi, bila investasi melebihi tabungan, maka kelebihan investasi tersebut harus didanai dengan dana pinjaman luar negeri. Dengan dana pinjaman dari luar negeri ini, memungkinkan Negara yang bersangkutan untuk mengimpor lebih banyak barang dan jasa dari luar negeri dari pada mengekspornya, maka terjadilah deficit neraca perdagangan.
2.1.4 Teori Volatilitas Nilai Tukar
            Rudiger Dornbusch (1976) memperkenalkan satu teori mengenai Volatilitas nilai tukar yang lebih di kenal dengan anam teori Over-Shooting Exchange Rate. Dalam teorinya ini diasumsikan terdapat dua jenis barang, yaitu barang-barang traded dan barang-barang nontraded. Juga dinyatakan bahwa konsep mengenai Purchasing Power Parity tidak sepenuhnya berlaku, sehingga dapat mengakibatkan Overshooting nilai tukar, yang terjadi nilai tukar menajuh dari titik keseimbangan barunya sebelum dia kembali lagi.Volatilitas nilai tukar adalah ketidakstabilan harga dari suatu mata uang akibat dari penawaran dan permintaan mata uang suatu negara seperti contoh uji Kausalitas-Granger antara sektor keuangan dan volatilitas ekonomi menitik beratkan pada hubungan satu arah antara perkembangan sektor keuangan terhadap volatilitas ekonomi. Sebelum dilakukan uji kausalitas dilakukan terlebih dahulu uji kointregrasi antara variable perkembangan sektor keuangan dengan volatilitas ekonomi.
Volatilitas nilai tukar didefinisikan sebagai tingkat kecendurungan berubahnya nilai tukar, yaitu seberapa sering dan seberapa besarnya fluktuasi nilai tukar.Gourieroux (2001: 130)) dalam bukunya Financial Econometric, Problem, Model and Methods  mendefinisikan  volatilitas sebagai time variying variance. Variance di disini sebagai besaran yang menunjukan besarnya perubahan varian antar waktu.
Volatilitas nilai tukar nominal selalu menjadi perhatian penting bagi para pengambil kebijakan yang dalam beberapa decade terakhir karena memiliki dampak yang sangat kuat terhadap kondisi makro ekonomi (Milhailov:2003) :
1.      Terhadap inflasi, consumer price index(CPI) terutama pada produk impor atau barang input yang komponen luar negerinya sangat besar.
2.      Terhadap aliran asset finansial, perubahan nilai tukar nominal akan memperangruhi keseluruhan return dari asset yang dinyatakan dalam nilai tukar yang berbeda
3.      Terhadap current account, nilai tukar nominal mempengaruhi harga relative terhadap ekspor/impor (dengan kemungkinan perbedaan elastisitas), akan mempenagruhi neraca perdagangan.
4.      Terhadap balance sheet pemerintah dan perusahaan, dinegara berkembang, pinjaman swasta atau pemerintah kepada sisa dunia pada umumnya dinyatakan dalam US $, sementra revenue nya dinyatkan juga sebagai :
               
 Dimana :
      Pt  = indexs harga domestik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar